RSS

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI DASAR I MEDIA YANG TEPAT UNTUK MENYIMPAN KELAPA SEHINGGA KELAPA DAPAT TAHAN LAMA

29 Mei
  1. Title

The best media to save the coconut, so that it is durable.

2.  Goal

Knowing the best media to save the coconut, so that it is durable.

        3. The Background

Sometimes if the housewifes are cooking that they use coconuts for milk squeezed, the coconuts are left and it just be a waste. This activity is showing that the economic efficiency is nothing. We buy a coconut, and we just use it a half, and the other half we throw away, it makes a consumptive behaviour. It’s okay if we have a refrigerator to save the remainder, but how we don’t have a refrigerator to save it? So, nowadays the housewifes are better fond of use the instant milk squeezed which can be bought in the most of market for save their money.

This reality arouses us to find the best method how to save the remainder of coconuts and the other day we can use it again for cooking. So we can save more money. The practicans try to get the best method to solve this problem. We choose some media to know what media that right to save the coconut.

4.  Basic Theory

Jamur benang atau fungi umumnya sering dijumpai dalam pangan. Jamur benang semula dikenal sebagai penyebab kerusakan pangan yaitu sejak orang-orang primitive pertama kali mengenal cara bercocok tanam dan menyimpan pangan. Berbagai perubahan akibat pertumbuhan jamur benang dapat terjadi selama penyimpanannya antara lain denagn timbulnya bercak atau lender tak berwarna maupun yang berwarna-warni : putih, hijau, jingga, merah, coklat, atau hitam. Serangan jamur hitam tersebut mengakibatkan bahan yang disimpan mengalami kelainan rasa dan bau (misalnya : masam, bau alcohol, apek/tengik) atau mengakibatkan kerusakan tekstur sehingga bahan tersebut menjadi tidak enak atau tidak aman dimakan.

Pertumbuhan jamur pada makanan dipengaruhi oleh beberapa factor lingkungan antara lain adalah factor air, pH, suhu, oksigen, zat makanan dan senyawa penghambat pertumbuhan (inhibitor).

  1. Faktor air

Umumnya jamur membutuhkan kadar air yang lebih rendah dibandingkan dengan bakteri sehingga makanan-makanan yang dikeringkan akan lebih banyak dirusak oleh jamur daripada bakteri.

  1. Faktor keasaman atau pH

Kecepatan tumbuh mikroorganisme sangat dipengaruhi oleh ion-ion H+. pada umumnya jamur dapat tumbuh di llingkungan yang pHnya berkisar antara 2-8,5 akan tetapi lebih senang hidup pada suasana asam.

2. Faktor suhu

Kebanyakan jamur dapat tumbuh pada suhu antara 25-40oC (mesofilik) dan paling baik pertumbuhannya pada suhu optimum sekitar 25-30 oC atau sama dengan suhu kamar. Akan tetapi ada beberapa jamur yang dapat tumbuh baik pada suhu 35-37 oC, misalnya Aspergillus sp.

3. Faktor oksigen

Berdasarkan kebutuhan mikroorganisme akan oksigen dalam proses respirasinya, maka mikroorganisme dapat dibedakan menjadi 4 golongan yaitu aerobic, anaerobic, fakultatif anaerobik dan mikroaerofilik. Jamur yang tumbuh pada makanan umumnya adalah aerobic karena oksigen dibutuhkan untuk pertumbuhannya.

4. Faktor makanan atau substrat

Substrat yang dibutuhkan mikroorganisme untuk kelangsungan hidupnya, berhubungan erat dengan susunan kimianya yang berupa protein, karbohidrat, asam nukleat, mineral-mineral serta unsure-unsur seperti N, S, C, P, Ca, Fe, Mg dan Mn. Umumnya jamur dapat menggunakan banyak sumber makanan dari senyawa kimia yang sederhana sampai yang kompleks. Sebagian jamur mempunyai enzim pektinase, amylase, protease, dan lipase untuk mengolah bahan makanannya.

5. Faktor inhibitor

Makanan yang terdapat di alam kadang-kadang mengandung senyawa atau zat penghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti asam benzoate, yang terdapat di dalam buah tanaman tertentu. Zat lain yang dapat menghambat pertumbuhan jamur adalah senyawa propinat yang biasanya digunakan dalam pembuatan roti agar dapat menghambat pertumbuhan jamur. Ada beberapa jamur tertentu yang dapat menghasilkan semacam zat penghambat pertumbuhan mikroorganisme lainnya yang dikenal sebagai antibiotic, misalny : penisilin, streptonisin, dll.

Pertumbuhan mikrobia dapat dikontrol dengan aw rendah, yang antara lain dapat dicapai dengan menambahkan bahan terlarut yang bersifat mengikat air. Aw (water activity) adalah istilah untuk suatu konsep kimia yang menyatakan tentang besarnya air tak terikat senyawa yang terdapat dalam suatu bahan. Di lain sisi bahan terlarut tertentu yang terkandung dalam pangan dapat berpengaruh mendorong atau menghambat pertumbuhan jamur benang. Scott (1957) melaporkan bahwa pertumbuhan Eurotium (Aspergillus) amstelodani tumbuh lebih cepat kira-kira 50% pada aw optimum, apabila aw dikontrol dengan menambahkan glukosa. Peningkatan kecepatan tumbuh ini tidak diperoleh bila glukosa diganti dengan magnesium klorida, natrium klorida atau gliserol. Sebaliknya, Pitt dan Hocking (1977) menunjukkan bahwa perkecambahan beberapa spesies Aspergillus dan Penicillium tidak begitu terpengaruh bila aw media dikendalikan dengan glukosa-fruktosa, gliserol atau garam natrium klorida.

5.  Hypothesis

The coconut will be better safe if it is saved in salt water

6. The Equipment

    1. 21 glasses
    2. water
    3. coconut
    4. salt
    5. sugar
    6. lemon
    7. bottle lid
    8. camera

7.  The Steps

  1. Peeling the coconut on the brown side.
  2. Washing the coconut with a water.
  3. Cutting the coconut into same size.
  4. Preparing some glass with 100 ml water in it, with the detail :
  • 3 glasses with aquades
  • 3 glasses with salt water @ a bottle lid
  • 3 glasses with salt water @ 2 bottle lids
  • 3 glasses with sugar water @ a bottle lid
  • 3 glasses with sugar water @ 2bottle lids
  • 3 glasses with lemon water @ a bottle lid
  • 3 glasses with lemon water @ 2 bottle lids
  1. Taking the coconut in to each glass at the same time
  2. Observing the object for 4 days and taking the picture

8. The Result Data of Experiment

HARI I

sampel

Ada tidaknya jamur pada kelapa

Bau kelapa

Kelunakan kelapa

Lendir

Permukaan atas

Permukaan bawah

Suhu kamar A

+++

++

+

Suhu kamar B

+++

+

+

Suhu kamar  C

++

+

+

Water A

+

++

++

Water B

+

+

+

Water C

+

+

+

Salt water 1A

Salt water 1B

Salt water 1C

+

Salt water 2A

Salt water 2 B

Salt water 2 C

Sugar water 1A

+

+

+

Sugar 1B water

+

+

+

Sugar 1C  water

+++

+

++

Sugar water 2A

++

+

Sugar 2B water

+++

+

Sugar 2C  water

+

Lemon water 1A

Lemon water 1B

Lemon water 1C

Lemon water 2A

+

Lemon water 2B

Lemon water 2C

HARI II

sampel

Ada tidaknya jamur pada kelapa

Bau kelapa

Kelunakan kelapa

LendIr

Permukaan atas

Permukaan bawah

Suhu kamar A

+++

+++

+

Suhu kamar B

+++

++

+

Suhu kamar  C

++

++

+

Water A

++

+++

+++

Water B

++

++

++

Water C

++

++

++

Salt water 1A

Salt water 1B

Salt water 1C

Salt water 2A

Salt water 2 B

Salt water 2 C

Sugar water 1A

++

+++

+

Sugar 1B water

++

+++

+

Sugar 1C  water

++++

++

+++

Sugar water 2A

+++

++

++

Sugar 2B water

++++

++

+

Sugar 2C  water

+

+

+

Lemon water 1A

+

Lemon water 1B

+

+

Lemon water 1C

+

+

Lemon water 2A

++

+

Lemon water 2B

++

Lemon water 2C

++

+

HARI III

sampel

Ada tidaknya jamur pada kelapa

Bau kelapa

Kelunakan kelapa

Lendir

Permukaan atas

Permukaan bawah

Suhu kamar A

+++++

+++

+

Suhu kamar B

+++++

++

+

Suhu kamar  C

++++

++

+

Water A

+++

+++

+++

Water B

++++

++

++

Water C

+++

++

++

Salt water 1A

Salt water 1B

Salt water 1C

+

Salt water 2A

Salt water 2 B

Salt water 2 C

Sugar water 1A

++

+++

+

Sugar 1B water

+++

+++

+

Sugar 1C  water

++++

+++

++++

Sugar water 2A

++++

++++

+++

Sugar 2B water

++++

++

++

Sugar 2C  water

+

++

+

Lemon water 1A

+

Lemon water 1B

+

Lemon water 1C

+

Lemon water 2A

++

+

Lemon water 2B

++

Lemon water 2C

++

HARI IV

sampel

Ada tidaknya jamur pada kelapa

Bau kelapa

Kelunakan kelapa

Lendir

Permukaan atas

Permukaan bawah

Suhu kamar A

++++++

++++

+

Suhu kamar B

++++++

++++

+

Suhu kamar  C

+++++

+++

+

Water A

++++

++++

++++

Water B

+++++

++++

++++

Water C

++++

+++

+++

Salt water 1A

Salt water 1B

Salt water 1C

+

Salt -water 2A

Salt water 2 B

Salt water 2 C

Sugar water 1A

++

++++

+

Sugar 1B water

+++

+++

+

Sugar 1C  water

++++

++++

+++

Sugar water 2A

++++

++++

+++

Sugar 2B water

++++

+++

++

Sugar 2C  water

++

+++

+

Lemon water 1A

+

Lemon water 1B

+

Lemon water 1C

+

Lemon water 2A

+++

Lemon water 2B

+++

Lemon water 2C

+++

9.  Discussion

Pada percobaan yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara penyimpanan kelapa yang sudah dikupas agar lebih lama tahan terhadap jamur, praktikan mendapat suatu hasil yang menunjukkan bagaimana cara yang tepat menyimpan kelapa. Dalam percobaan ini, digunakan variable-variabel sebagai berikut :

  • Variable control

Variable control yang digunakan : jenis kelapa, yaitu menggunakan kelapa yang sering digunakan untuk memasak; umur kelapa, kelapa yang digunakan sudah tua dan keras; tebal kelapa, dibuat sama yaitu denagn tebal 1,cm; bentuk irisan kelapa, kelapa dipotong dengan mengusahakan agar bentuk potonagn sama, yaitu segiempat; air biasa (aquades) untuk melarutkan garam, gula, perassan jeruk, yang akan digunakan sebagai larutan untuk merendam kelapa; gelas yang dipakai sebagai wadah larutan.

  • Variable terikat

Variable terikat dalam percobaan adalah ketahanan kelapa.

  • Variable bebas

Variable bebas yang digunakan adalah air biasa (aquades); air garam dengan kandungan garam pada air garam pertama adalah sebanyak satu tutup botol, dan kandungan garam pada air garam kedua adalah sebanyak dua tutup botol; air gula dengan kandungan gula pada air gula pertama adalah sebanyak satu tutup botol, dan kandungan gula pada air gula kedua adalah sebanyak dua tutup botol; air garam dengan kandungan jeruk nipis pada air jeruk nipis pertama adalah sebanyak satu tutup botol, dan kandungan jeruk nipis pada air jeruk nipis kedua adalah sebanyak dua tutup botol; serta penempatan kelapa pada suhu ruangan.

Parameter yang digunakan adalah ada tidaknya jamur pada kelapa, bau kelapa, kelunakan kelapa, lendir pada permukaan atas kelapa, dan lendir pada permukaan bawah kelapa yaitu bagian yang dikupas kulit coklatnya. Untuk parameter yang pertama, yaitu ada tidaknya jamur pada kelapa, kami mendapatkan hasil bahwa kelapa yang disimpan pada suhu kamar, ditunjukkan dengan skala nilai plus (+) yang lebih banyak daripada kelapa-kelapa dalam perlakuan lain, dan semakin hari semakin banyak jamur yang tumbuh yaitu jamur berwarna hitam. Hal ini dikarenakan jamur yang tumbuh pada makanan umumnya adalah aerobic, sehingga oksigen yang terdapat dalam udara membantu pertumbuhan jamur pada kelapa. Jamur yang paling banyak tumbuh yang kedua adalah pada kelapa yang disimpan di air gula sebanyak gula dua tutup botol. Jamur tersebut berwarna hitam, kuning, dan putih. Hal ini berdasarkan telah dikemukakan bahwa  pertumbuhan mikroba dapat dikontrol denagn aw rendah, yang antara lain dapat dicapai dengan menambahkan bahan terlatut yang bersifat mengikat air. Padahal bahan terlarut tertentu yang terkandung dalam pangan dapat berpenagruh mendorong atau menghambat pertumbuhan jamur benang. Scoot (1957) melaporkan bahwa pertumbuhan Eurotium (Aspergillus) tumbuh lebih cepat (kira-kira 50%nya) pada aw optimumnya (0,96) apabila aw dikontrol dengan penambahan glukosa. Aw merupakan istilah untuk suatu konsep kimia yang menyatakan tentang besarnya air tak terikat ssenyawa yang terdapat dalam suatu bahan. Kelapa yang disimpan di air garam tidak terlalu ditumbuhi jamur dikarenakan jamur benang tumbuh sangat lambat jika medianya hanya mengandung garam natrium klorida sebagai bahan terlarutnya (Pitt dan Hocking, 1977). Pada umumnya jamur dapat tumbuh di lingkunagn yang pHnya berkisar antara 2-8,5, akan tetapi akan lebih senang hidup pada suasana asam. Namun, kelapa yang disimpan dalam air jeruk nipis juga tidak terlalu banyak ditumbuhi jamur dikarenakan jamur benang pada umumnya bersifat absolute aerobic (tidak dapat tumbuh tanpa adanya gas oksigen). Bahkan banyak di antaranya amat rakus akan gas oksigen sehingga untuk tumbuhnya diperlukan seluruh cadangan atau supply oksigen yang ada sebab jika tidak pertumbuhannya akan terganggu. Air yang ditambah perassan jeruk nipis menjadikan kadar oksigen dalam air berkurang, ditambah pula dengan tenggelamnya kelapa jika dimasukkan dalam larutan air jeruk nipis, sehingga pertumbuhan jamur terhambat. Pada perlakuan dalam larutan air jeruk nipis 1A, 1b, dan 1C di permukaan air larutan jeruk nipis terdapat bercak-bercak hitam yang dimungkinkan itu adalah jamur. Jamur tumbuh di permukaan karena jamur mendapat suplai oksigen dari udara. Kelapa yang disimpan dalam air aquades tidak ditumbuhi jamur, karena secara visual praktikan tidak melihat tanda-tandanya adanya jamur denagn didasarkan pada warna kelapa tidak berubah atau masih tetap berwarna putih. Kelapa yang disimpan dalam air keadaannya tenggelam. Sehingga oksigen yang didapat hanya dari oksigen yang terlarut dalam air. Dan dimungkinkan oksigen yang terlarut itu kurang memadai untuk mendukung tumbuhnya jamur. Dari uraian di atas, untuk parameter pertama yaitu ada tidaknya jamur pada kelapa, cara penyimpanan kelapa yang baik adalah dengan menyimpannya di larutan air garam dan larutan air jeruk.

Parameter kedua yang digunakan adalah bau kelapa. Kelapa yang disimpan pada suhu kamar berbau tengik, dan semakin hari semakin tengik dikarenakan banyaknya jamur yang tumbuh. Pada hari keempat, kelapa mencapai bau ketengikan yang luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa menyimpan kelapa pada suhu kamar kurang efisien karena bau tersebut. Kelapa yang disimpan pada air, pada hari pertama hanya berbau seperti bau susu busuk dengan skala (+) satu, ini berarti bau kelapa tidah tajam. Namun, semakin hari bau kelapa seperti susu busuk makin menyengat, dan pada hari keempat baunya menunjukkan skala (+) lima pada gelas air B. Kelapa setelah disimpan dalam air selama empat hari sudah tidak layak dipakai untuk memasak karena bau seperti susu busuk sangat tajam. Kelapa yang disimpan dalam larutan garam tidak berbau sedikitpun sampai hari keempat. Ini berarti kelapa yang disimpan dalam larutan garam setelah empat hari masih layak dipakai untuk memasak karena tidak mengalami perubahan bau. Kelapa yang disimpan dalam larutan gula pada hari pertama berbau sperti alkohol dengan skala (+) satu, dan semakin hari bau tersebut semakin jelas hingga gelas 1A, 1C, dan 2A mencapai skala (+) empat menunjukkan sangat berbau alkohol. Bau alkohol ini dikarenakan proses fermentasi oleh jamur dan adanya gula. Ini menunjukkan kelapa yang disimpan di larutan gula tidak layak dipakai lagi untuk memasak. Kelapa yang disimpan dalam larutan jeruk nipis pada awalnya tidak berbau, hanya berbau larutan jeruk nipis itu sendiri. Namun pada hari kedua mulai muncul bau busuk bercampur denagn bau jeruk nnipis denagn skala (+) satu untuk pemberian perasan jeruk nipis sebanyak satu tutup botol, dan skala (+) dua untuk pemberian perasan air jeruk untuk pemberian perasan jeruk sebanyak dua tutup botol. Larutan jeruk nipis satu tutup botol tidak ada perubahan bau lagi hingga hari keempat, tetapi larutan denagn dua tutup botol perasan jeruk semakin lama semakin berbau hingga skala (+) tiga. Dari uraian di atas, untuk parameter yang kedua yaitu berdasarkan bau yang muncul, penyimpanan kelapa yang baik adalah disimpan di larutan air garam.

Parameter ketiga yaitu berdasarkan kelunakan kelapa. Kelapa yang disimpan pada suhu kamar lebih lunak (+) satu dibanding dengan kelapa yang disimpan di tempat berbeda. Namun, walaupun lunak, kelapa tetap kering. Kelapa lain yang disimpan di dalam air, larutan garam, larutan gula, dan larutan jeruk nipis tidak menunjukkan perubahan kelunakan. Jadi untuk parameter ketiga yaitu berdasarkan perubahan kelunakan kelapa, hanya kelapa yang disimpan pada suhu kamarlah yang tidak layak utnuk digunakan lagi pada hari berikutya untuk memasak.

Parameter keempat yaitu berdasarkan ada tidaknya lendir, baik di permukaan atas kelapa atau permukaan dalam, dan permukaan bawah atau permukaan bawah yang dihilangkan kulit coklatnya sebelumnya. Kelapa yang disimpan pada suhu kamar, selama empat hari tidak menunjukkan adanya lendir, baik di permukaan atas maupun bawah karena tempat penyimpanan  pada suhu kamar tidak lembab. Kelapa yang disimpan di air dari hari pertama sudah terasa berlendir, dan semakin hari semakin terasa lendir tersebut baik di permukaan bagian atas, maupun bagian bawah. Kelapa dalam air ini juga adalah kelapa yang paling banyak terdapat lendir dibanding dengan kelapa-kelapa lain yang disimpan dalam media berbeda. Dimungkinkan lendir tersebut disebabkan oleh bakteri, bukannya jamur karena umumnya jamur membutuhkan kadar air yang lebih rendah dibandingkan dengan bakteri. Kelapa yang disimpan dalam larutan garam, larutan gula, dan larutan jeruk nipis selama empat hari tidak menunjukkan adanya lendir baik di permukaan atas maupun di permukaan bawah kelapa. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa kelapa yang disimpan di air tidak layak pakai lagi karena banyaknya lendir sampai skala (+) empat pada hari keempat.

Dari hasil pengamatan menggunakan empat parameter, didapat hasil sebagai berikut :

NO

Media

Keterangan

Ada tidaknya jamur

Bau kelapa

Kelunakan kelapa

Ada tidaknya lendir

Permukaan atas

Permukaan bawah

1

2

3

4

5

Suhu kamar

Air

Larutan garam

Larutan gula

Larutan jeruk nipis

Keterangan :         √ : penyimpanan yang baik

–  : penyimpanan yang kurang baik

10. Conclusion

Media yang paling tepat untuk menyimpan kelapa agar tetap awet adalah dengan menyimpannya di larutan air garam.

11. Daftar Pustaka

Dwidjoseputro, Prof. Dr. D.1978.Dasar-Dasar Mikrobiologi.Jakarta:Djambatan

Sudarmadji, dkk.1989.Mikrobiologi Pangan.Yogyakarta:Pusat Antar Universitas-Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada

Tarigan, Drs Jeneng.1988.Pengantar Mikrobiologi.Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 29, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: